SEJARAH PURI SATRIYA

BADUNG PADA JAMAN SUB DINASTI JAMBE
(1750 – 1788 M)


Sejarah keberadaan Puri Satria berkaitan dengan ekspedisi Majapahit ke Bali tahun Çaka 1256 (sastining Bhuta manon janma) atau 1334 Masehi untuk menaklukan kerajaan Bedulu dibawah pimpinan Panglima Arya Damar/ Adityawarman.

Dal
am ekspedisi Majapahit ke Pulau Bali dapat diuraikan bahwa pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada dan Arya Damar mengalahkan musuh musuhnya dengan caranya sendiri sendiri. Patih Gajah Mada dengan “Wiweka”nya (akal) sedangkan Arya Damar dengan mengandalkan “Kawisesan”nya atau ilmu magic yang dimilikinya sebagai pengikut setia aliran Bajrayana-Amoghapasa yang menyebabkan pahlawan dan prajurit Bali ketakutan dan menyerah.

Pemerajan Puri Satriya

Setelah Kerajaan Bedulu berhasil ditaklukkan maka sebelum Patih Gajah Mada meninggalkan Pulau Bali, semua Arya dikumpulkan untuk diberikan pengarahan tentang pengaturan pemerintahan, ilmu kepemimpinan sampai pada ilmu politik “ Raja Sesana dan Nitipraja” yang mana tujuannya agar para Arya tersebut nantinya dapat mempersatukan dan mempertahankan Pulau Bali sebagai daerah kekuasaan Majapahit.

Penempatan para arya diatur sebagai berikut :

  1. Arya Kenceng diberikan kekuasaan di daerah Tabanan dengan rakyat sebanyak 40.000 orang
  2. Arya Kutawaringin diberikan kekuasaan di Gelgel dengan rakyat sebanyak 5.000 orang
  3. Arya Sentong diberikan kekuasaan di Pacung dengan rakyat sebanyak 10.000 orang
  4. Arya Belog diberikan kekuasaan di Kaba Kaba dengan rakyat sebanyak 5000 orang
  5. Arya Beleteng diberikan kekusaan di Pinatih
  6. Arya Kepakisan diberikan keuasaan di daerah Abiansemal
  7. Arya Binculuk diberikan kekauasaan di daerah Tangkas

Demikianlah penempatan para Arya di Bali, setelah itu Patih Gajah Mada, Arya Damar dan Pasung Grigis kembali ke Majapahit dengan disertai 30.000 orang prajurit.

Arya Damar telah meninggalkan Pulau Bali namun putra putra beliau yaitu Arya Kenceng, Arya Delancang dan Arya Tan Wikan (purana Bali dwipa lembar 11a) ditinggalkan di Bali untuk mengawasi Pulau Bali dari kemungkinan timbulnya pemberontakan dari orang orang Bali Aga.


PEMERINTAHAN ARYA KENCENG DI TABANAN

Dalam lontar Purana Bali Dwipa dinyatakan bahwa Arya kenceng adalah anak dari Arya Damar, sebab Arya Damar ketika menyerang Bali bukan pemuda lagi, diperkirakan usia beliau pada waktu diperkirakan 45 tahun. Hal yang sama juga dinyatakan dalam Kitab Usana Jawa yang menyatakan “ Arya Damar Kenceng Pwa sira “ yang artinya dalam diri Arya Kenceng terdapat darah daging Arya Damar”. Dan hal ini hanya dimungkinkan kalau Arya Kenceng adalah anak kandung Arya Damar yang berhak menerima kedudukan di dalam pemerintahan Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan sebagai ahli waris Arya Damar.

Tempat Pemujaan Arya Kenceng
di Desa Buahan Tabanan


Arya Kenceng , beliau adalah penguasa daerah Tabanan, berkedudukan di desa Pucangan atau Buwahan. Satu uraian sejarah yang menguatkan dugaan bahwa Arya Kenceng adalah Anak Arya Damar dinyatakan dalam buku sejarah berjudul Pulau Bali Dalam masa Masa yang Lampau tentang adanya suatu tradisi untuk memberikan suatu jabatan atau kedudukan tertentu dalam pemerintahan kepada anak anaknya untuk menggantikan kedudukan orang tuanya, setelah orang tuanya meninggal atau karena jasa jasa orang tuanya.

Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir di Gelgel Tahun 1380 – 1460. yang menjadi menteri menteri adalah anak anak dari para Arya yang datang ke Bali pada ekspedisi Majapahit untuk menggantikan kedudukan orang tuanya.

Arya Kenceng mengambil istri putri keturunan brahmana yang bertempat tinggal di Ketepeng Renges yaitu suatu daerah di Pasuruan yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Arya Kenceng memperistri putri kedua dari brahmana tersebut sedangkan putri yang sulung diperistri oleh Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan dari Puri Samprangan dan putri yang bungsu diperistri oleh Arya Sentong.

Dari perkawinan dengan putri brahmana tersebut Beliau berputra :

  1. Shri Megada Parabhu / Dewa Raka ( tidak tertarik akan kekuasaan, beliau senang melakukan tapa yoga semadi, mencari kesunyian, mendekatkan diri pada alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa untuk mecari ketenangan dan kedamaian, membangun pesraman di Kubon Tingguh ), mempunyai putri yang dijadikan istri oleh Kepala Desa Pucangan dan mempunyai anak lima orang : Ki Bendesa Beng, Ki Guliang di Rejasa,Ki Telabah di Tuakilang, Ki Bendesa di Tajen, Ki Tegehen di Buahan
  2. Shri Megada Natha / Dewa Made / Arya Yasan / Sri Arya Ngurah Tabanan Sri Maganata (Sirarya Ngurah Tabanan I ) memangku jabatan raja menggantikan ayahnya, beliau memerintah dengan bejaksana dan berwibawa sehingga terjaminlah keamanan wilayah Tabanan. Sri Maganata dalam sejarah Pemecutan disebut juga dengan Nama Arya Yasan.
Dari Istrinya yang lain, beliau berputra :
  1. Kyayi Ngurah Tegeh Kori menjadi raja Badung berkedudukan di sebelah kuburan umum. Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan ( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / Beliau membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama Puri Tegeh Kori ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ), karena ada konflik di intern keluarga maka beliau meninggalkan Puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat Pemerajan dengan nama "Mrajan Mayun " yang sama dengan nama Pemerajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat "Pagerwesi". Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani ( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan. Di Puri Tegeh Kori beliau berkuasa sampai generasi ke empat. Beliau berhasil membuat bendungan di Pegat dan melahirkan golongan Gusti Di Tegeh
  2. Seorang putri bertempat tinggal di Istana di Buwahan diambil istri oleh Kyayi Asak Pakisan di desa Kapal, tetapi tidak memperoleh keturunan..
Arya Kenceng sebagai kepala pemerintahan di daerah Tabanan bergelar Nararya Anglurah Tabanan, sangat pandai membawa diri sehingga sangat disayang oleh kakak iparnya Dalem Samprangan. Dalam mengatur pemerintahan beliau sangat bijaksana sehingga oleh Dalem Samprangan beliau diangkat menjadi Menteri Utama.

Karena posisi beliau sebagai Menteri Utama, maka hampir setiap waktu beliau selalu berada disamping Dalem Samprangan. Arya Kenceng sangat diandalkan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh Dalem Samprangan, karena jasanya tersebut maka Dalem Samprangan bermaksud mengadakan pertemuan dengan semua Arya di Bali. Dalam pertemuan tersebut Dalem Samprangan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan tersebut tiada lain untuk memberikan penghargaan kepada Arya Kenceng atas pengabdiannya selama ini.

  • Wajai dinda Arya Kenceng, demikian besar kepercayaanku kepadamu, aku sangat yakin akan pengabdianmu yang tulus dan ikhlas dan sebagai tanda terima kasihku, kini aku sampaikan wasiat utama kepada dinda dari sekarang sampai seterusnya dari anak cucu sampai buyut dinda supaya tetap saling cinta mencintai dengan keturunanku juga sampai anak cucu dan buyut.
  • Dinda saya berikan hak untuk mengatur tinggi rendahnya kedudukan derajat kebangsawanan (catur jadma) , berat ringannya denda dan hukuman yang harus diberikan pada para durjana.
  • Dinda juga saya berikan hak untuk mengatur para Arya di Bali , siapapun tidak boleh menentang perintah dinda dan para Arya harus tunduk pada perintah dinda.
  • Dalam tatacara pengabenan atau pembakaran jenasah (atiwatiwa) ada 3 upacara yang utama yaitu Bandhusa, Nagabanda dan wadah atau Bade bertingkat sebelas. Dinda saya ijinkan menggunakan Bade bertingkat sebelas. Selain dari pada itu sebanyak banyaknya upacara adinda berhak memakainya sebab dinda adalah keturunan kesatriya, bagaikan para dewata dibawah pengaturan Hyang Pramesti Guru.


Demikianlah penghargaan yang kanda berikan kepada adinda karena pengadian dinda yang tulus sebagai Mentri utama “. Arya Kenceng karena telah lanjut usia, akhirnya beliau wafat dan dibuatkan upacara pengabenan (palebon) susai dengan anugrah Dalem Samprangan yaitu boleh menggunakan bade bertingkat sebelas yang diwariskan hingga saat ini. Adapun roh sucinya (Sang Hyang Dewa Pitara) dibuatkan tugu penghormatan (Padharman) yag disebut batur dan disungsung oleh keturunan beliau hingga saat ini dan selanjutnya.


MASA PEMERINTAHAN SHRI MEGADA NATHA/ DEWA MADE / ARYA YASAN/ SRI ARYA NGURAH TABANAN/ RAJA TABANAN II

Karena Sri Megadaprabu tidak bersedia memegang kekuasaan di Tabanan, maka yang menjadi Raja menggantikan Bhetara Arya Kenceng adalah
Sri Megadanata, dengan nama yang lain Sri Ngurah Tabanan. Beliau tidak lupa dengan hubungan baik dengan Dalem yang pada waktu itu adalah Dalem Ketut Ngulesir, yang lebih dikenal dengan Sri Kepakisan yang beristana di Swecapura atau Linggarsapura Sukasada atau Gelgel.

Peninggalan Puri Agung Satriya

Beliau putra dari Sri Kresna Kepakisan ( cucu dari Dalem Wawu Rawuh ) yang mempunyai istana di Samprangan dan merupakan adik dari Dalem Ile.
Beliau Arya Ngurah Tabanan mempunyai tiga orang istri dari keturunan kesatria dan memberikan 8 orang putra Istri Pertama (Warga para Sanghyang) lahir 4 orang putra (menetap di Tabanan):

  1. Nararya Ngurah Tabanan / Sirarya Ngurah langwang (Putra Mahkota)
  2. Kiyai Madhyattara/ Made Kaler – menurunkan Pragusti Subamia
  3. Kiyai Nyoman Pascima / Nyoman Dawuh – menurunkan pragusti Jambe (Pamregan) ·
  4. Kiyai Ketut Wetaning Pangkung – menurunkan pragusti Lodrurung, Ksimpar dan Serampingan
Istri kedua (Warga para Sanghyang) lahir 3 orang putra menetap di Badung) :

  1. Kiyai Nengah Samping Boni – menurunkan pragusti Samping
  2. Kiyai Nyoman Ancak – menurunkan pragusti Ancak dan Angligan
  3. Kiyai Ketut Lebah – tidak memberikan keturunan karena kesua anaknya perempuan.
Istri ketiga (Putri bendesa Pucangan) lahir 1 orang putra (menetap di Badung):

  1. Kiyai Ketut Bendesa/ Kiyai Pucangan/ Nararya Bandhana

Pura Satriya

Tiga orang saudara dari Kiyayi Pucangan Tabanan yaitu Kyayi Samping Boni, Kyayi Nyoman Batan Ancak, Kyayi Ketut Lebah, atas perintah Dalem agar menetap di Badung sebagai pendamping Raja Badung. seperti ayah beliau menjalin hubungan yang baik dengan Dalem Ketut di Gelgel (Anak dari Sri Kresna Kepakisan) sebagai sesuhunan Pulau Bali dan karena masih bersaudara sepupu. Karena demikian akrabnya hubungan tersebut ternyata membawa suatu petaka.

Prasasti Mpu Aji Tusan Lembar 7a transkrip halaman 9 menyebutkan Pada suatu ketika Putra Mahkota Dalem Ketut minta tolong kepada Sri Maganata yang masih merupakan pamannya untuk memotong rambutnya yang sudah panjang. Beliau karena demikian akrabnya maka dipototonglah rambut putra mahkota tersebut sampai gundul tanpa persetujuan dari ayahnya.

Memang sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, ketika Dalem Ketut melihat anaknya dalam keadaan gundul, beliau sangat terkejut dan mencari tahu siapa gerangan yang melakukan hal tersebut tanpa seijin dirinya.

Hatinya merasa berang setelah mengetahui bahwa Sri Maganatalah yang melakukan hal tersebut, namun beliau berupaya menyembunyikan kemarahannya tersebut serta menanyakan hal tersebut kepada Sri Maganata Setelah mendengar penjelasan dari Sri Maganata hati beliau tetap tidak senang akan hal tersebut dan mengusir Sri Maganata secara halus ke Majapahit untuk menengok keluarganya disana. Mengetahui kemarahan Dalem tersebut tanpa membantah lagi maka berangkatlah Sri Maganata ke Majapahit .

Arya Yasan tinggal di Kerajaan Majapahit kurang lebih 8 tahun, disana beliau berusaha untuk mencari dan menanyakan keluarganya dari keturunan Arya Damar/ Adityawarman, namun pencarian tersebut tidak membuahkan hasil karena Majapahit sudah runtuh tahun 1478 sehingga beliau memutuskan untuk pulang kembali ke Bali.

Setibanya di Bali beliau kemudian mengembara ke gunung gunung untuk menjadi serang pendeta kemudian bertapa. Arya Yasan tidak diperkenankan menyandang kedudukan dan tidak berhak memiliki rakyat demikian pula kedua putra beliau juga mengalami hal yang sama dengan ayahnya. Diceritakan bahwa adik beliau yang paling kecil tinggal diistana yang bernama Bibi Kyahi Tegeh Kori yang diperistri oleh Dalem Gelgel dan diserahkan kepada putra Si Arya Wongaya Kepakisan yang bernama Kyahi Asak yang tinggal di Kapal.
Peninggalan Puri Satriya

Hal tersebut membuat beliau marah terhadap Dalem, lalu mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan pada putranya Sri Arya Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan sebagai Raja Tabanan III.
Setelah meletakkan jabatan Arya Ngurah Tabanan meninggalkan keraton dan mendirikan sebuah pondok di tengah hutan yang disebut Kubon Tingguh.

Kubon Tinggoh adalah tempat berduka cita. Karena perbuatan Dalem yang sewenang-wenang tersebut Arya Yasan menjadi marah dan mengutuk Dalem dan para patih agar selama lamanya terkutuk karena Dalem tidak mematuhi petuah dimasa lampau (antara Arya Kenceng dengan Dalem Kresna Kepakisan ).

Akibat kutukan tersebut Dalem mendapat serangan burung gagak yang senantiasa mengusik hidangan Dalem sehingga beliau menjadi sangat kesal. Beliau Arya Yasan/ Sri Megadanata kemudian menjalani kehidupan suci serta membuat pesraman yang dilengkapi tetamanan dan telaga didaerah Kebon Tingguh yang terletak dibarat daya dari Istana di Pucangan. Pesraman tersebut sekarang sudah menjadi sebuah pura besar yang dinamakan Pura Mentingguh Tabanan yang sekarang disungsung oleh rakyat Tabanan dan Badung.

Diceritakan bendesa Pucangan mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Sang Ayu Mendesa, diberikan tugas oleh bendesa pucangan untuk melayani kebutuhan sehari hari Arya Yasan/ Sri Megadanata sehingga lama kelamaan tumbuh benih benih cinta kasih diantara keduanya yang dilanjutkan dengan upacara perkawinan.

Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra yang diberi nama Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan. Beliau menerima pusaka demon dan pahleng yaitu supit atau tulup tanpa lubang. Setelah besar beliau diserahkan kepada kakaknya Sri Arya Ngurah Longwan / Sri Arya Ngurah Tabanan dean tetap tinggal di Istana. Tidak berapa lama karena lanjut usia wafatlah beliau dan diadakan upacara sebagaimana mestinya.


KYAYI KETUT BENDESA/ KYAYI PUCANGAN/ SANG ARYA BAGUS ALIT

Kembali lagi ke peristiwa yang menimpa ayah dari Arya Notor Wandira / Arya Notor Waringin yaitu Arya Yasan, Karena perbuatan Dalem yang sewenang-wenang tersebut Arya Yasan menjadi marah dan mengutuk Dalem dan para patih agar selama lamanya terkutuk karena Dalem tidak mematuhi petuah dimasa lampau (antara Arya Kenceng dengan Dalem Kresna Kepakisan ).

Akibat kutukan tersebut Dalem mendapat serangan burung gagak yang senantiasa mengusik hidangan Dalem sehingga beliau menjadi sangat kesal. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk mengusir keberadaan burung gagak tersebut, namun selalu saja tidak membuahkan hasil.

Peninggalan Puri Satriya

Terdengar berita bahwa cucu Arya Kenceng di Tambangan yang bernama Sang Arya Bagus Alit / Arya Pucangan mempunyai keahlian nyumpit atau nulup, maka Dalem mengundang Sang Arya Bagus Alit ke Ibukota Kerajaan. Keberhasilan Sang Arya Bagus Alit mengalahkan burung gagak tersebut membuat Dalem menjadi tersadar dan ingat kembali kepada Sang Arya Yasan ayah dari Sang Arya Bagus Alit yang masih merupakan sepupunya untuk datang ke Puri Gelgel.

Dalam transkrip lontar Museum Bali dalam Pamancangah Badung Mwang Tabanan dan dalam lontar Babad Badung milik Anak Agung Oka Manek dari Jero Grenceng demikian pula prasasti Mpu Tusan diceritakan bahwa dari pertemuan Dalem dengan Arya Yasan tersebut Dalem menyampaikan permohonan maafnya dan mengembalikan kedudukan Arya Yasan sebagai penguasa daerah Tabanan bersama putra sulungnya. Sedangkan Sang Arya Bagus Alit disuruh menetap di Tambangan (Badung) oleh Dalem Gelgel semenjak itu Sang Arya Bagus Alit terkenal dengan nama Dewa Hyang Anulup.

Setelah sekian lama Dewa Hyang Anulup mempunyai seorang putra, beliau kemudian kembali ke daerah Tabanan untuk menetap di daerah Pucangan sehingga diberi nama Bhatara Pucangan. Beliau wafat dan meninggalkan seorang putra yang bernama Bhatara Notor Wandira atau Bhatara Notor Waringin


SANG ARYA KETUT NOTOR WANDIRA/ ARYA NOTOR WARINGIN

Setelah dewasa Kyahi Ketut Bendesa atau Kyahi Pucangan meninggalkan pesraman dan mengabdi Ke Puri Tabanan yaitu Nararya Ngurah Tabanan / Sirarya Ngurah langwang yang diangkat menjadi Raja Tabanan ke III. Di puri Tabanan beliau tidak diberikan kedudukan yang wajar, beliau hanya diberi tugas sebagai tukang kurung ayam istana. Begitupun untuk tempat tinggal beliau tidak diberikan tempat tinggal di Puri sehingga pada malam hari beliau tidur dirumah-rumah penduduk, pasar ataupun balai banjar.

Pada suatu malam rakyat Tabanan dibuat kaget karena melihat adanya cahaya yang terang benderang namun setelah didekati ternyata berasal dari cahaya ubun kepala Sang Arya Ketut Notor Wandira yang sedang tidur. Berita tersebut akhirnya terdengar oleh Raja Tabanan, dalam hati beliau sangat murung mendengar kesaktian Sang Arya Ketut Notor Wandira tersebut dan khawatir sewaktu waktu akan merebut tahta kerajaan Tabanan, maka dicarilah jalan untuk menyingkirkan beliau.

Peninggalan Puri Satriya

Di bencingah Puri Tabanan tumbuh pohon beringin yang sangat besar dan sangat angker dimana sebelumnya 10 orang yang diberi tugas untuk memotong pohon beringin tersebut telah tewas dalam menjalankan tugasnya. Timbulah muslihat dari Raja Tabanan bahwa untuk melaksankan tugas berat tersebut akan diserahkan kepada Sang Arya Ketut Notor Wandira. Maka dipanggilah adiknya untuk menghadap dan minta kesanggupan adiknya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Arya Ketut Notor Wandira menerima tugas tersebut dan minta waktu beberapa hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka sebelum melaksankan tugas tersebut beliau kemudian ngaturang pakeling di temat tersebut dan selanjutnya bertapa semedi di Pura Batukaru Tabanan mohon keselamatan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena ketekunannya oleh Bethara di Pura Batukaru beliau mendapat anugrah senjata sakti berupa kapak yang bernama I Cekle.

Maka pagi pagi sekali Arya Ketut Notor Wandira sudah berada di bencingah Puri Tabanan untuk mulai melaksanakan tugas memotong pohon beringin tersebut. Beliau naik sampai ke puncak pohon beringin dan mulai memotong dahan pohon tersebut satu persatu sampai yang tersisa hanya batangnya saja. Diatas pohon tersebut Arya Ketut Notor Wandira bertolak pinggang dan menari nari. Rakyat Tabanan beserta Raja sangat heran dan kagum atas kesaktian Arya Ketut Notor Wandira sehingga mulai saat itu Arya Ketut Notor Wandira diberi gelar Arya Notor Waringin oleh Raja Tabanan karena keberhasilannya memotong pohon beringin yang angker tersebut.

Setelah dewasa Arya Notor Wandira / Arya Notor Waringin mengambil istri dari desa Buwahan yaitu Ni Gusti Ayu Pucangan dan berputra 2 orang yaitu

  1. Kyahi Gde Raka
  2. Kyahi Gde Rai (membuat puri di Kerambitan)

KYAHI GDE RAKA/ KYAHI BEBED/ KYAHI JAMBE POLE / KIYAYI NGURAH PAPAK

Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed mempunyai 2 orang istri. Istri pertama dari buahan mempunyai seorang putra bernama Kyahi Jambe sedangkan istri kedua dari Tumbakbayuh lahir seorang putra bernama Kyahi Tumbakbayuh. Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed sangat senang bertapa beliau ingin mendapatkan kesucian dan kewibawaan sebagai seorang raja, Kyahi Bebed kemudian pergi secara diam diam pada waktu malam hari dari Puri Tabanan, berjalan terlunta lunta sehingga sampailah beliau di Gunung Giri di Beratan yang bernama gunung Batukaru.


Beliau kemudian memusatkan pikiran dan bersemedi untuk memohon berkah. Disana beliau memperoleh petunjuk agar melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur untuk menghadap Bhatari Dhanu untuk memohon kejayaan. Lama beliau terlunta lunta dalam perjalanan sampai akhirnya tibalah beliau di daerah Pura Panarajon. Disana beliau kemudian memusatkan pikiran bersemedi mohon petunjuk dari yang maha kuasa.

Peninggalan Puri Satriya

isana beliau mendapat petunjuk Sanghyang Panrajon untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Batur. Di Pura tersebut beliau bertemu dengan seorang anak kecil hitam kulitnya, gigi putih di Pura Tambyak. Kyahi Gde Raka / Kyahi Bebed kemudian memberi nama itu Ki Tambyak Tudelaga / Ki Andhagala . Tudelaga adalah namanya yang pertama. setelah mendapat petunjuk tersebut, Kiyai Bebed melanjutkan perjalanan ke Gunung Batur dengan diiringi oleh Ki Andhagala dari keturunan Tambyak.

Sampai di puncak Gunung Batur kembali beliau bersemedi dan kelurlah Bhatari Danu yang akan mengabulkan apa yang menjadi keinginan Kiyai Bebed. Namun sebelumnya Bhatari Danu minta kepada Kiyai Bebed untuk menggendongnya ke tengah danau. Kiyai Bebed menyanggupi permintaan tersebut sehingga digendonglah Bhatari Danu ke tengah danau.

Namun sungguh ajaib beliau tidak tenggelam beliau seperti berjalan diatas tanah saja, air hanya sampai dipergelangan kaki saja. Ketika sampai di pinggir danau bersabdalah Bhatari Danu bahwa beliau akan mengabulkan permohonan Kiyai Bebed untuk memperoleh kejayaan di daerah Badung. Akhirnya apa yang menjadi cita cita beliau melalu tapa semadi terkabul dan kelak akan menjadi raja di daerah Badung. Bahkan Bhatari Danu menganugrahkan dua buah senjata yang sangat ampuh berupa pecut dan tulupan, tetapi tiap tiap hari piodalan di Pura Batur senjata ini harus dibawa untuk dibuatkan upakara.

Setelah mendapat anugrah beliau melanjutkan perjalanan ke daerah Badung. Setelah mendapat anugrah tersebut beliau akhirnya pulang ke Buwahan. Diceritakan Nararya Gde Raka meninggalkan Tabanan menuju Badung dan dalam rombongan tersebut ikut serta kedua istrinya dan pengawal yang paling setia yaitu I Negala (Tambiyak).

Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh sampailah rombongan tersebut di perbatasan utara kerajaan Badung yaitu Desa Lumintang. Pada waktu itu ada seorang yang datang menyapa bernama I Kaki Lumintang. Nararya Gde Raka mengajukan permohonan agar diperbolehkan untuk menginap semalam. Karena kasihan melihat rombongan yang sudah kelelahan tersebut I Kaki Lumintang menerima permohonan tersebut, namun I Kaki Lumintang ingin mengetahui terlebih dahulu dari mana kedatangan rombongan ini dan apa maksud dan tujuannya datang ke Badung.

Nararya Gde Raka kemudian menjelaskan maksud kedatangannya ke Badung untuk mengabdi kepada ramanda Gusti Ngurah Tengeh Kuri di Kerajaan Badung dan mereka adalah keturunan Nararya Notor Waringin dan juga pernah cucu dari Cokorde Mukules dari Puri Mentingguh Tabanan.

Mengetahui hal tersebut I Kaki Lumintang menundukkan diri memberi penghormatan untuk seorang putra raja. Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju Puri Tegah Kuri di Tegal dengan diantar oleh I Kaki Lumintang. Pertemuan ini sangat mengharukan kedua pihak, karena antara Kyai Tegeh Kori dan Arya Notor Wandira ada hubungan Paman – Ponakan.

Nararya Gde Raka menyatakan hasratnya untuk menghamba (mekandelin) pamannya di bumi Badung. Nararya Gde Raka diterima dengan tangan terbuka oleh Gusti Tegeh Kuri dan diperkenankan mengabdi di Badung dan diangkat sebagai putra ke tiga dan diberi nama Kiyai Nyoman Tegeh, karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri sudah mempunyai 2 orang putra yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh.


Untuk tempat tinggalnya, Kiyai Nyoman Tegeh dan semua keluarga serta I Tambyak dititipkan sementara di rumah I Mekel Tegal yang letaknya sekarang di sebelah barat Br Tegal Gede (pewarisnya I Nyoman Yasa).

Pada suatu hari tiba tiba Gusti Ngurah Tegeh Kuri diserang penyakit lumpuh, seluruh anggota badannya sukar bergerak sehingga seluruh kegiatan pemerintahan mengalami gangguan. Kedua orang putra beliau yaitu Kiyai Wayan Tegeh dan Kiyai Made Tegeh tidak mampu menggantikan ayahnya sebagai kepala pemerintahan di Badung.

Jiwa kepemimpinan serta kewibawaan masih sangat kurang, karena memiliki sifat pemalu dan rendah diri. Tidak diduga dari Puri Gelgel mendadak ada perintah supaya Raja Badung segera menghadap ke Puri Gelgel karena adanya persoalan yang sangat penting yang menyangkut keamanan Pulau Bali. Bila Raja berhalangan hadir maka seorang Putra Raja diperbolehkan mewakili.

Oleh karena Gusti Ngurah Tegeh Kuri dalam keadaan sakit maka beliau memerintahkan salah satu dari putranya untuk mewakilinya ke Puri Gelgel, namun kedua putranya menolak dengan alas n belum memiliki cukup pengalaman untuk melaksanakan tugas tersebut. Mendengar hal tersebut Gusti Ngurah Tegeh Kuri menjadi sangat murung memikirkan bagaimana nantinya kerajaan Badung di kemudian hari tanpa dirinya.

Dalam renungannya, timbul pikiran beliau untuk mengutus Kiyai Nyoman Tegeh sebagai wakil Kerajaan Badung untuk menghadap ke Puri Gelgel. Segera Kiyai Nyoman Tegeh dipanggil untuk menghadap dan setelah dijelaskan, Kiyai Nyoman Tegeh menerima dengan senang hati tugas yang diberikan kepadanya dan berjanji tugas tersebut akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Diceritakan Kiyai Nyoman Tegeh sudah berangkat menuju Puri Gelgel dengan diiringi Ki Tambyak.

Didalam perjalanan sesampainya di Desa Sumerta Ki Tambyak dihina oleh penduduk setempat sambil bernyanyi dan tertawa tawa melihat penampilan Ki Tambyak yang serba hitam hanya giginya saja yang kelihatan putih. Mendengar penghinaan tersebut Ki Tambyak menjadi sangat marah, ia mengamuk bagaikan benteng kedaton, memukul dan menendang ke kanan dan kekiri.

Akhirnya kentongan dibunyikan oleh penduduk desa Sumerta yang menandakan bahwa ada orang yang mengamuk. Raja Sumerta Gusti Pasek Sumerta keluar dari purinya untuk menghadapi Ki Tambyak. Perkelahian terjadi dengan serunya namun akhirnya Gusti Pasek Sumerta tidak mampu menandingi Ki Tambyak sehingga beliau menyatakan menyerah dan tunduk kepada Kerajaan Badung. Mulai saat itu Desa Sumerta menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Badung.

Peninggalan Puri Satriya

Setelah peristiwa tersebut Kyai Nyoman Tegeh kemudian melanjutkan perjalanan ke Puri Gelgel dan sesampainya beliau disana langsung menghadap Ida Dalem Waturenggong di bale penangkilan. Kyai Nyoman Tegeh diterima dengan baik oleh Ida Dalem Waturenggong dan Dalem menanyakan prihal keamanan di Kerajaan Badung, perbaikan pura pura dan hal lainnya yang kesemuanya dijawab dengan baik sehingga memuaskan hati Dalem Waturengong.

Karena sikapnya yang santun serta mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintah Kyai Nyoman Tegeh dapat menarik simpati dari Dalem waturenggong sehingga beliau diminta lebih lama tinggal di Puri Gelgel mendampingi Dalem Waturenggong. Karena mempunyai kesan yang baik kepada Kiyai Nyoman Tegeh maka Dalem Waturenggong memberikan anugrah untuk bersama sama Gusti Ngurah Tegeh menjalankan pemerintahan di wilayah Badung, karena mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh yang tidak memungkinkan menjalankan pemerintahan kembali.

Setelah beberapa bulannya Kyai Nyoman Tegeh tinggal di Puri Gelgel, maka beliau pamit ulang kembali ke Badung. Singkat cerita sesampainya di Badung Kiyai Nyoman Tegeh menghadap Gusti Ngurah Tegeh Kuri untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Dalem Waturenggong dan menyampaikan titipan surat dari Ida Dalem Waturenggong untuk Gusti Ngurah Tegeh Kuri.

Dalem surat itu Dalem menyampaikan rasa puasnya kepada Kiyayi Nyoman Tegeh sebagai utusan dari Kerajaan Badung yang mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu pemerintahan sehingga sangat menawan hati Dalem Waturenggong. Kemudian mengingat kondisi kesehatan Gusti Ngurah Tegeh Kuri sebagai kepala pemeritahan di Badung mengalami suatu hambatan, maka untuk melaksanakan tugas tugas pemerintahan di wilayah Badung agar diberikan kepada Kiyai Nyoman Tegeh. Arya Gde Raka di diberikan fasilitas tinggal di Badung dengan dibuatkan kediaman di dusun Kerandan.


PERANG TANDING DENGAN KIYAYI PLASA

Pada saat bertahta, Kyayi Nyoman Tegeh, pernah dikirim bertempur oleh Dalem , bersama Kyayi Ngurah Telabah di Kuta, dan Kyayi Ngurah Tabanan, menyerang I Kebo Mundar di Sasak. Kyayi Telabah melarikan diri karena dikalahkan oleh Kebo Mundar, kemudian digantikan oleh Kyayi Anglurah Tabanan dan Badung, hingga Ki Kebo Mundar takut dan takluk.

Dalem menghukum Kyayi Telabah, dengan menyerahkan rakyat kekuasaannya kepada Raja Badung. Namun Kyayi Telabah tidak mentaati, maka timbul bentrokan antara Badung dengan Kuta. Seorang utusan melaporkan bahwa Kyai Wayan Tegeh putra tertua Gusti Ngurah Tegeh Kuri terlibat perkelahian dengan Kiyai Plasa di Mergaya Abiantimbul.

Perkelahian tersebut sudah dari sejak pagi, karena sama sama kebal dan sakti maka tidak seorangpun keluar sebagai pemenang, akhirnya perkelahian dihentikan karena hari sudah menjelang malam. Kyai Nyoman Tegeh memberikan nasehat kepada kakaknya Kyai Wayan Tegeh Kuri, bila besok kembali berhadapan dengan Kiyai Plasa maka Kiyai Wayan Tegeh jangan sekali kali mandi di sungai Kuta sebab air sungai tersebut dapat menghilangkan kekebalan.

Dan sesuai dengan yang sudah dijanjikan esok harinya perang tanding kembali di mulai, Kiyai Plasa nampak dibantu oleh Kyai Petiles dari Pekambingan. Perang tanding menjadi tidak seimbang satu melawan dua sehingga menyebabkan Kyai Wayan Tegeh kehabisan nafas dan dihinggapi rasa haus yang tak tertahankan. Beliau kemudian terjun ke sungai Kuta, membasahi tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah dan haus, beliau lupa akan pesan adiknya yang melarangnya untuk mandi di sungai kuta selama perang tanding berlangsung.

Setelah matahari condong ke Barat perang tanding di mulai lagi dengan serunya, kedua belah pihak berusaha saling menjatuhkan lawannya. Tiba tiba dalam satu kesempatan Kiyai Plasa berhasil menghunus keris langsung ke perut Kyai Wayan Tegeh. Karena sudah hilang kekabalannya maka keris tersebut langsung menancap di perut Kyai Wayan Tegeh sehingga beliau terpelanting dan mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Perang tanding dihentikan dan kemenangan berada di pihak Raja Plasa. Berita kematian Kyai Wayan Tegeh, menimbulkan kemarahan dari Kyai Nyoman Tegeh dan berjanji akan menuntut balas atas kematian kakaknya. Kyai Nyoman tegeh kemudian mengambil keris sakti untuk menandingi Kyai Plasa. Singkat cerita ditengah jalan beliau dihadang oleh Kiyai Plasa dan Kiyai petiles yang sudah siap berperang dengan keris terhunus.

Kiyayi Nyoman Tegeh menghadapi kedua musuhnya dengan tenang dan waspada. Pergulatan dimulai saling tindih dan tusuk untuk mengadu kekabalan. Dan pada suatu kesempatan yang baik Kyai Nyoman Tegeh berhasil menusuk perut Kiyai Plasa sehingga menghembuskan napasnya terakhir.

Kiyayi Petiles kemudian ganti menghadapi Kiyai Nyoman Tegeh, namun seperti Kiyai Plasa yang telah tewas, nasib Kiyai Petilespun sama, dadanya tertikam oleh keris Kiyai Nyoman Tegeh sehingga terkapar tak berdaya. Namun sebelum Kiyai Petiles menghembuskan napasnya yang terakhir, beliau menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung dan semua daerah yang menjadi kekuasaannya diserahkan kepada Kerajaan Badung. Karena kekalahan tersebut maka semua keluarga Kiyai Petiles diturunkan wangsanya menjadi rakyat biasa. Setelah kekalahan Kiyai Petiles maka seluruh rakyatnya menyatakan tunduk kepada Kerajaan Badung.

Kyayi Jambe Pule mempunyai putra yang bernama Kiyai Anglurah Pemedilan dan Anak Agung Istri Jambe. Kedua anak beliau lahir di Pemedilan di rumah Ki Tanjung Gunung (sebelah utara Pura Tambangan Badung) Nararya Gde Raka mendirikan Puri Pemecutan Setelah mendapat anugrah dari Dalem Waturenggong untuk menjalankan pemerintahan di Badung, maka beliau mulai memperluas wilayah kerajaan Badung.

Puri Sumerta berhasil ditaklukkan terbukti salah satu Pura Khayangan di Sumerta setiap hari purnama kedasa selalu datang hadir ke Pura Tambangan Badung sebagai prasanak pura Kerajaan Badung. Beliau diberi gelar Kiyai Jambe Pole, Pole berasal dari kata polih yang artinya mendapatkan kekuasaan. Dan untuk melaksanakan pemerintahan, beliau mendapat panjak (rakyat) sebanyak 500 orang dari Gusti Ngurah Tegeh Kuri dan dinobatkan menjadi Raja Badung. Karena beliau mendapat anugrah dari Bhatari danu Batur berupa senjata sakti Pecut dan Tulupan
Beliau sebagai cikal bakal pendiri kerajaan di Badung


ANUGRAH RAJA BADUNG UNTUK KI TAMBYAK

Seperti yang telah diceritakan diatas bahwa Ki Tambyak sangat berjasa mengiringi Kiyayi Jambe Pule dari sejak di pura Ulun Danu sampai beliau menjadi Raja di Badung, maka untuk membalas budi kepada Ki Tambyak/ Ki Handagala maka Raja Badung mengeluarkan amanat bahwa Ki Tambyak dan Keturunannya tidak boleh dihukum mati sebesar apapun kesalahannya dan amanat ini berlaku seterusnya bagi Raja selanjutnya yang berkuasa di wilayah Badung.

Kiyayi Arya Bebed/ Kiyayi Jambe Pule merupakan tonggak awal berdirinya dinasti Pemecutan di Badung. Beliau membangun Puri Agung Nambangan sebelum diganti menjadi Puri Agung Pemecutan. Puri yang dulunya berlokasi disebelah barat jl. Thamrin sekarang berbatasan dengan Jl. Gunung Batur, Jalan Gunung Merapi dan Jl. Gunung Semeru sebagai pusat pemerintahan.

Kiyayi Arya Bebed/ Kiyayi Jambe Pule sebagai Raja Badung pernah berperang melawan Kiyayi Arya Made Janggaran atau Kiyayi Agung Badeng yaitu Raja yang memerintah kerajaan Karangasem. Perang tersebut dipicu oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Patih Agung Kerajaan Gelgel yaitu I Gusti Agung Maruti terhadap kekuasaan Raja Bali yaitu Dalem Dimade yang memerintah Kerajaan Gelgel tahun 1621 - 1651. Dalem Di Made adalah merupakan menantu dari Kiyai Jambe Pule.

Perang yang berlangsung sangat hebat dan berlangsung lama merupakan pemberontakan yang pertama kali dilakukan oleh I Gusti Agung Maruti tanpa ada pihak yang kalah maupun menang sehingga akhirnya masing masing pihak kembali Purinya masing masing. Kiyai Bebed karena menderita luka yang sangat banyak disekujur tubuhnya sehingga tubuhnya menjadi berwarna merah menyala, karena itu beliau mendapat julukan Kiyayi Jambe Pule.

Kiyai Jambe Pule mengambil istri 3 orang

  • Jero Kame / Jero Tameng dari Tumbakbayuh mempunyai putra Kiyai Anglurah Gelogor - beristana di Gelogor merupakan cikal bakal Arya Gelogor.
  • Kiyayi Rara Pucangan ( anak dari Kiyai Arya Pucangan Tabanan) mempunyai putra Kiyai Anglurah Jambe Merik - beristana di Puri Alang Badung Suci merupakan cikal bakal Puri Satriya
  • Putri Kiyai Penataran dari Bebandem Karangasem mempunyai putra Kiyai macan Gading/ Kiyai Anglurah Ketut Pemedilan / Kiyai Anglurah Nambangan – Cokorde Pemecutan II yang mewarisi Puri Pemecutan.
Selain mempunyai 3 orang putra, Kiyai Jambe Pule juga mempunyai 3 orang putri

  • Putri pertama diambil oleh Kiyai Badeng dari keturunan Kiyai Agung yang menguasai daerah Kapal (keturunan Arya Dhalancang)
  • Putri Kedua diambil oleh kesatria Kesiman
  • Putri ketiga diambil oleh Dalem Di Made / Sri Maharaja Bali dari Puri Gelgel yang merupakan cikal bakal keturunan kesatria Klungkung


BERAKHIRNYA KEKUASAAN PURI TEGEH KORI TEGAL


Pada tahun 1750 ada sebuah konflik internal di dalam kerajaan Arya Tegeh Kori yang berujung dengan berakhirnya kekuasaan beliau. Masalahnya adalah perebutan seorang gadis putri dari Arya Tegeh Kori XI yang bernama I Gusti Ayu Mimba Sundari (Ratu Istri Tegeh). Persiapan upacara pernikahan antara putri raja dengan Kyai Jambe Merik putera dari Kyai Jambe Pule sudah dilakukan oleh keluarga raja dan rakyat.

Tiba-tiba ada permintaan dari raja Mengwi I Gusti Agung Made Agung Alang Kajeng, agar sang putri diserahkan ke Mengwi. Oleh karena kerajaan Mengwi pada waktu itu sedang mengalami masa kejayaan dengan reputasi laskarnya yang hebat. Arya Tegeh Kori tidak berani menolak permintaan tersebut, sang putripun diserahkan ke kerajaan Mengwi

Penyerahan gadis ini menimbulkan amarah yang besar dari pihak keluarga Kyai Jambe Pule karena dinilai sebagai penghinaan. Dengan mendapat dukungan dari rakyat pihak keluarga Jambe Pule memberontak terhadap kekuasaan Arya Tegeh Kori XI. Terjadilah perang di intern kerajaan Arya Tegeh Kori. Laskar yang masih setia dengan raja terdesak sampai ke desa Kaliungu, kemudian terdesak lagi sampai di sebelah Barat Banjar Taensiat, yang disebut dusun Tegal Tebuk.

Sementara raja Arya Tegeh Kori XI bertahan di desa Tanguntiti sambil menunggu datangnya bala bantuan dari menantunya I Gusti Agung Made Agung Alang Kajeng. Setelah lama menunggu, datang bala bantuan dari Mengwi. Raja Arya Tegeh Kori sangat kecewa, karena jumlah anggota laskar yang didatangkan amat sedikit, dan itupun dimasudkan hanya untuk mengawal sang menantu.

Raja Arya Tegeh Kori XI akhirnya menyerah dan meminta peperangan di hentikan agar tidak menimbulkan korban lebih banyak. Demikianlah perang dihentikan dengan kekalahan pada keluarga raja.

Atas usulan dari raja Mengwi, permasalahan diselesaikan dengan pertemuan keluarga yang dilaksanakan di desa Kapal wilayah kerajaan Mengwi. Pertemuan keluarga ini melahirkan beberapa kesepakatan, diantaranya Arya Tegeh Kori XI menyerahkan kekuasaan. Laskar dan pengikut Arya Tegeh Kori diampuni dan dibebaskan memilih tempat tinggal.

Sedangkan Kyai Tegeh Kori XI beserta keluarga menuju suatu desa yang kemudian disebut desa Tegaltamu (wilayah Gianyar), karena ada tamu dari Tegal .Jero Tegeh Kuri kemudian dibangun disebelah barat jalan tikungan menuju Desa Celuk . Akhirnya para pimpinan laskar dan putra-putranya memilih jalan sesuai dengan keinginan masing-masing, seperti:

  • Ki Gusti Tegeh Gara, Ki Gusti Tegeh Kebek, Ki Gusti Tegeh Tegal dan keluarga menuju ke Jimbaran, Klungkung dan Jembrana.
  • Ki Gusti Tegeh Dawuh, Ki Gusti Tegeh Tengah, Ki Gusti Tegeh Tambun beserta keluarga menuju Penarungan, Carangsari, Petang, Pelaga, Tinggan, dam Penulisan.
  • Ki Gusti Tegeh Kandil, Ki Gusti Tengah Dogol, Ki Gusti Tegeh Jero, Ki Gusti Tegeh Degeng beserta keluarga menuju desa Beratan, Candikuning dan seterusnya.
  • Rombongan ke empat mengambil jalan yang paling singkat menuju kota Tabanan, dipimpin oleh Kyai Gusti Tegeh Wayahan, Kyai Gusti Tegeh Made Segara beserta keluarganya. Dua orang saudaranya Ki Gusti Tegal Agung dan Ki Gusti Tegal Dawuh gugur dalam menghadapi laskar Ki Pucangan. Sebagian rombongan ini menuju dan menetap di desa Bongan sekarang, sambil mundut pasasti dengan busana keraton yang lengkap.

Dengan demikian usai sudah kekuasaan Ksatrya Dhalem dinasti Kyai Arya Tegeh Kori di Badung yang berlangsung selama 350 tahun. Kemudian Badung memasuki jaman Kejambean.


SUSUNAN PEMERINTAHAN DI KERAJAAN BADUNG


Setelah jatuhnya pemerintahan Puri Tegeh Kori di Kerajaan Badung maka kekuasaan untuk wilayah Badung diambil alih oleh putra putra dari Kyayi Jambe Pole dengan susunan pemerintahan sebagai berikut :

  1. Kyayi Jambe Merik menjadi Raja di Kerajaan Badung dengan pusat pemerintahan di Puri Alang Badung
  2. Kyayi Anglurah Pemedilan/ Kiyayi Macan Gading sebagai Wakil Raja Badung beristana di Puri Agung Pemecutan
  3. Kiyayi Anglurah Gelogor sebagai Adipati Agung beristana di Puri Agung Gelogor

KIYAI JAMBE MERIK
RAJA BADUNG I


Setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Arya Tegeh Kori Kyai Anglurah Jambe Merik menjadi raja di Badung beristana di Alang Badung (daerah Suci sekarang), dengan Pemerajannya bernama Pura Suci, istananya bernama Puri Peken Badung.

Kyai Jambe Merik dapat dikatakan sebagai pendiri kerajaan Badung. Pada jamannya beliau mengirim adiknya Kyai Ngurah Pemecutan I untuk membebaskan kota Gelgel dari pendudukan I Gusti Agung Maruti sejak tahun 1686. Kyai Ngurah Pemecutan II gugur dalam pertempuran di desa Batu Klotok.

Sebagaimana diketahui salah seorang isteri Dhalem Di Made adalah saudara dari Kyai Jambe Merik, yang menurunkan Dewa Agung Jambe Raja Klungkung I
. Selanjutnya yang mengemuka dalam sejarah Badung adalah: Kyai Jambe Merik menurunkan Sub Dinasti Jambe, dan Kyai Ngurah Pemecutan I menurunkan Sub Dinasti Pemecutan. Kyai Anglurah Jambe Merik Raja Badung I .


KYAI JAMBE KETEWEL

RAJA BADUNG II

Setelah Kyai Jambe Merik meninggal, digantikan oleh puteranya Kyai Anglurah Jambe Ketewel. Beliau masih menempati kediaman ayahnya di Puri Peken Badung. Pada jamannya dibangun bendungan (DAM) raksasa di tukad Sagsag, di mana sepasang suami-istri dari abdi menyerahkan nyawanya (jadi caru) menjadi dasar bendungan tersebut. Suami-istri tersebut menceburkan diri di tempat sekitar 75 meter ke Utara dari lokasi bendungan sekarang, disaksikan oleh raja Badung, pejabat-pejabat kerajaan, dan rakyat. Oleh karena itu bendungan tersebut diberi nama Oongan.

Sekitar akhir abad 18 kerajaan Badung diserang oleh laskar Taruna Gowak Panji Sakti dari kerajaan Buleleng, yang dipimpin langsung oleh rajanya Kyai Anglurah Panji Sakti. Pada saat kritis tersebut raja Badung menunjuk Kyai Anglurah Pemecutan III yang beristana di Puri Pemecutan menjadi pemimpin laskar Alang Badung untuk membendung serangan tersebut.

Laskar Alang Badung berhasil mendesak mundur laskar musuh dan banyak yang jatuh korban di pihak Buleleng. Sisa anggota laskar melarikan diri ke desa Tanguntiti. Karena reputasinya ini setelah wafat Kyai Anglurah Pemecutan III disebut Bhatara Sakti. Tempat terjadinya pertempuran tersebut kemudian diberi nama Taensiat.

Pada jamannya, Dewa Agung Jambe dari Klungkung melakukan kunjungan ke Badung untuk mengucapkan rasa terimakasihnya atas dukungan Badung dalam mengakhiri pendudukan Patih Agung I Gusti Agung Maruti di istana Gelgel. Dewa Agung Jambe menghadiahkan desa Batu Bulan sebagai wilayah kekuasaan Badung.


KYAI ANGLURAH JAMBE TANGKEBAN
RAJA BADUNG III

Dalam masa pemerintahannya tidak terjadi hal-hal penting yang menyangkut masalah eksternal kerajaan. Menurut Babad Timbul, pada jamannya datanglah seorang bangsawan keturunan Dhalem Sukawati yang bernama Dewa Agung Made bersama adik-adiknya seperti: Dewa Agung Karang, Cokorda Anom, dan Cokorda Ketut Segara, beserta putera – puteri beliau. Kedatangan Dewa Agung Made ini adalah karena perselisihannya dengan kakaknya Dewa Agung Gede yang memerintah kerajaan Dhalem Sukawati.

Mengetahui Dewa Agung Made dalam keadaan sedih, Kyai Anglurah Jambe Tangkeban menjamu tamunya dengan baik. Sampai salah seorang putri keluarga Puri hamil akibat hubungannya dengan Dewa Agung Made. Setelah diperistri oleh Dewa Agung Made, gadis yang sedang hamil itu diberikan kepada Kyai Jambe Tangkeban dengan syarat jangan dicampuri sebelum anak itu lahir. Lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian menurunkan parati sentana di Puri Jero Kuta. Bayi yang kemudian menjadi cikal bakal Puri Jero Kuta ini, putera kandung dari Dhalem Sukawati dan putera tiri dari Kyai Jambe Tangkeban dari Sub Dinasti Jambe (bukan Sub Dinasti Pemecutan).


KYAI JAMBE AJI/ KIYAI JAMBE SATRIA
RAJA BADUNG IV
PENDIRI KERAJAAN SATRIYA


Kyai Jambe Aji menggantikan kedudukan ayahnya yang sudah tua. Beliau mendirikan istana baru bernama Puri Ksatria sekaligus memindahkan pusat pemerintahannya. Komplek Puri di Utara berbatasan dengan dusun Taensiat, sebelah Timur dusun Kaliungu, Selatan dusun Belaluan, dan Barat dusun Tampak Gangsul.

Dalam komplek Puri terdapat Gerya yang dinamakan Gerya Ksatrya, dan pasar yang dinamakan Pasar Ksatrya. Karena megahnya keadaan Puri Ksatrya itu beliau disebut juga Kyai Jambe Haeng. Salah seorang isteri dari Kyai Anglurah Jambe Aji adalah puteri dari Kyai Pemecutan III melahirkan putera mahkota yang bernama Kyai Jambe Ksatrya. Kyai Anglurah Jambe Ksatrya adalah raja Badung terakhir dari Sub Dinasti Jambe.




RUNTUHNYA PURI SATRIA
BERAKHIRNYA DINASTI KEJAMBEAN



Kiyai Agung Gde Oka di Jero Kaleran Kawan mempunyai 2 orang putra yaitu Kyai Ngurah Rai dan Kyai Ngurah Made. Setelah keduanya meningkat dewasa, Kiyai Ngurah Rai mengabdi di Puri Agung Satria

Diceritakan Kyai Jambe Ksatrya mempunyai kesenangan berjudi sabung ayam. Beliau mempercayakan ayam – ayamnya dipelihara oleh I Gusti Ngurah Rai karena Kiyai Ngurah Rai mempunyai bakat membina ayam kurungan, beliau terkenal sebagai pekembar yang bijaksana.

Denah Pura Satriya

Akibat seringnya I Gusti Ngurah Rai ke kediaman Kyai Jambe Haeng untuk mengurus ayam sang Raja, terjadi hubungan gelap antara I Gusti Ngurah Rai dengan salah satu istri raja yang masih muda. Pada suatu hari kebetulan ada sabungan ayam di bencingah Puri Agung Satriya. Kiyai Ngurah Rai sedang berada di kalangan Tajen sebagai pekembar. Kedua belah tangannya memegang ayam yang sedang diikat dengan taji. Nampak jelas ditangan kirinya memakai sebuah cincin bermata berlian, cincin yang mana sering dipakai oleh selir Kiyai Jambe Haeng Raja Satriya. Seorang pengawal istana segera melaporkan kepada Kiyai Jambe Haeng apa yang telah dilihatnya perihal cincin yang dikenakan Kiyai Ngurah Rai.

Menerima laporan tersebut Kiyai Jambe Haeng menjadi sangat marah dan memberikan perintah untuk menangkap Kiyai Ngurah Rai, namun Kiyai Ngurah Rai sudah tidak berada di kalangan tajen tersebut. Kiyai Ngurah Rai mendapat firasat yang tidak baik sehingga terlebih dahulu meninggalkan kalangan tajen dan pulang ke Jero Kaler Kawan. Di rumahnya beliau merebahkan diri untuk menghilangkan rasa letih dan memikirkan apa gerangan yang akan terjadi.

Tiba tiba datanglah Kiyai Made Tegal Cempaka Oka dengan sangat tergesa- gesa dan menyampaikan berita yang didengarnya dibencingah Puri Agung Satria kepada Kiyai Ngurah Rai. Berita tersebut adalah perintah untuk menangkap Kiyai Ngurah Rai hidup atau mati karena dianggap telah berani berbuat serong di dalam Puri Agung Satria.

Tanpa berpikir panjang lagi Kiyai Ngurah Rai segera meninggalkan Jero Kaler Kawan untuk menuju Desa Jimbaran. Tidak diceritakan dalam perjalanan menuju Desa Jimbaran bertemulah beliau dengan I Gde Mekel Jimbaran dan mohon perlindungan. Kebetulan pada waktu itu Kiyai Lanang Jimbaran putra Kiyai Agung Lanang Dawan sedang berada di rumah ibunya di desa Jimbaran.

Kedatangan Kiyai Ngurah Rai kemudian mendapat perlindungan dari kiyai Lanang Jimbaran dan minta kepada I Gde Mekel Jimbaran supaya menjaga dengan baik Kiyai Ngurah Rai dari pengejaran prajurit Puri Satriya. Diceritakan Laskar Puri Satriya sudah menyeberang Tukad Badung dan terus menuju Jero kaler Kawan untuk mengkap Kiyai Ngurah Rai. Akan tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada lagi dan akhirnya penggeledahan tersebut sampai juga ke Desa Jimbaran di rumahnya I Gde Mekel Jimbaran.

Kebetulan pada waktu itu semua keluarga I Gde Mekel Jimbaran sedang menumbuk padi di halaman rumahnya. Mereka tidak menghiraukan sama sekali kedatangan laskar Puri satriya yang mencari Kiyai Ngurah Rai. Matahari sudah hampir terbenam, Laskar Puri Satria belum juga menemukan orang yang dicari. Karena hari sudah gelap maka kepala pasukan memerintahkan menghentikan pencaharian dan memerintahkan untuk kembali. Ke Puri Satriya.

Sebenarnya waktu penggeledahan di rumah I Gde Mekel Jimbaran Kiyai Ngurah Rai sedang berada di dalam sumur yang ditutup dengan beberapa ikat padi yang baru di ketam. Dari luar memang nampak seperti tumpukan padi sehingga laskar Puri Satriya tidak menyangka sama sekali kalau Kiyai Ngurah Rai bersembunyi disana.

Akhirnya Kiyai Ngurah Rai selamat dari maut dan untuk mengenang kejadian tersebut Kiyai Ngurah Rai membuat pelinggih ditempat tersebut dan samapai sekarang masih dipelihara oleh keturunan Jero Kaler Kawan. Ditempat itu juga dibuat pelinggih Kiyai Agung Lanang Dawan yang berjasa menyembuhkan penduduk Desa Jimbaran dari wabah penyakit yang menyerang Desa Jimbaran yang sampai sekarang masih dipelihara oleh keturunan I Gede Mekel Jimbaran.

Entah berapa lamanya Kiyai Ngurah Rai berada di desa Jimbaran kemudian atas prakarsa I Gde Mekel Jimbaran, Kiyai Ngurah Rai berhasil diseberangkan ke Pulau Lobok dengan prahu Bugis. Atas Jasanya I Gde Mekel Jimbaran diberi penghargaan diganti namanya menjadi I Gde Mekel Perahu (Pewarisnya sekarang bernama Ni Luh Gerinding).

I Gusti Ngurah Rai diterima baik oleh raja Sasak, dan diperlakukan seperti keluarga sendiri. Di sana beliau dapat pelajaran dan pengalaman lain yang menambah kematangannya dalam urusan politik dan ketata-negaraan. Sementara itu pihak keluarga Kaleran mengatur siasat untuk menghadapi kekuasaan. Kiyai Ngurah Rai mengadakan kontak dengan Kiyai Tegal Cempaka Oka, dari Jero Tegal, Kiyai Jero Kuta, Kiyai Agung Belaluan, Kiyai Gde Gelogor dan I Gde Bandem di Pemedilan yang menjadi tulang punggung kekuatan laskar gerak cepat di Gerenceng. Gerenceng berarti gerak cepat.

Kontak Rahasia yang dibuat Kiyai Made Cempaka Oka semuanya berjalan dengan baik dan sepakat untuk membatu Kiyai Ngurah Rai untuk menggulingkan kekuasaan Kiyai Jambe Haeng dari Puri Satriya. Kemelut yang berkepanjangan antara Puri Kaleran dari Sub Dinasti Pemecutan dengan Puri Alang Badung yang berkuasa, sangat mengganggu aktifitas sehari-hari kerajaan dan rakyat Badung. Sementara itu Puri Pemecutan mengambil sikap netral tidak memihak manapun, karena yang berseteru ini adalah keluarga sendiri. Ada seorang puteri dari Puri Agung Pemecutan kawin dinikahi oleh Kyai Anglurah Jambe Ksatrya. Oleh karena itu Puri Pemecutan tidak banyak berperan dalam penggulingan kekuasaan Sub Dinasti Jambe.

Setelah semua persiapan disusun rapi dan sangat rahasia maka Kiyai Made Tegal Cempaka Oka memberikan isyarat kepada Kiyai Ngurah Rai untuk segera pulang ke Bali. I Gusti Ngurah Rai setelah pulang dari Lombok, mencari dukungan ke kerajaan Gianyar, yang waktu itu diperintah oleh Dewa Manggis Api. Beliau juga mencari dukungan ke Gerya Jro Gede Sanur, karena salah seorang puteri dari Sub Dinasti Pemecutan ada yang kawin ke Gerya Jero. Demikian juga I Gusti Ngurah Rai mengadakan kunjungan ke Puri Jro Kuta untuk mencari dukungan. Diplomasi di Jro Kuta memang berat dan riskan, karena Puri Jro Kuta adalah bagian dari keluarga Sub Dinasti Jambe.

Pada hari yang ditentukan datanglah utusan dari Kiyai Jambe Jero Kuta ke Puri Satria yang mengabarkan bahwa beliau sedang sakit dan kalau Kiyai Jambe Haeng tidak berhalangan supaya menengok sebentar ke Jero Kuta. Kiyai Jambe Haeng memenuhi permintaan tersebut dan segera bergegas meninggalkan Puri Satrya untuk pergi menuju Jero Kuta. Kiyai Ngurah Rai yang sudah kembali dari Lombok bersama Kiyai Made Tegal Cempaka Oka sekarang sudah berada di tepi Sungai Badung (Tukad Badung) di daerah Wangaya untuk menunggu kedatangan Kiyai Jambe Haeng. Tidak beberapa lama datanglah rombongan Kiyai Jambe Haeng yang menuruni tepi sungai Badung sebelah timur kemudian menyeberangi sungai badung secara perlahan lahan.

Setibanya beliau di tepi sungai, secara tiba tiba Kiyai Ngurah Rai melakukan serangan mendadak yang menyebabkan Kiyai Jambe Aeng tidak sempat mempersiapkan diri terlebih dahulu sehingga beliau terkena tikaman keris sakti dari Kiyai Ngurah Rai. Kiyai Jambe Haeng kemudian tersungkur dengan luka yang sangat parah, Namun beliau masih sempat berbicara.

  • Sesungguhnya matiku ini tidak wajar, sebagai seorang kesatria utama sebenarnya kamu harus menantang perang terlebih dahulu. Karena perbuatanmu yang melanggar hukum perang maka sebelum aku mati aku akan memberikan kutukan kepada kalian berdua supaya selama 7 keturunan kalian berdua tidak menemukan kerahayuan.
Tiba tiba Kiyai Ngurah Made adik dari Kiyai Ngurah Rai datang menyusul dan terkejut melihat apa yang terjadi. Darah terus mengalir dari luka yang diakibatkan tusukan kiyai Ngurah Rai terus meleleh. Dengan secepat kilat Kiyai Ngurah Made membopong tubuh Kiyai Jambe Haeng dan membawanya ke Jero Kuta. Kiyai Ngurah Made tidak dapat menahan kesedihannya melihat kondisi Kyai Jambe Haeng.

Di Jero Kuta Kiyai Ngurah Made terus mendampingi Kiyai Jambe Haeng yang sedang menunggu saat saat terakhirnya. Namun sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Kiyai Jambe Haeng sempat menyampaikan pesan kepada Kiyai Ngurah Made

  • Adikku Kiyai Ngurah Made dengarlah baik baik apa yang kukatakan, karena adikku yang memberikan pertolongan kepadaku maka kepada adiklah saya serahkan tahta Puri Satriya dan sebagai bakal adinda menduduki tahta Puri Satria terimalah Keris Singapraga ini.
Setelah beliau menyampaikan amanat yang terakhir maka wafatlah Kiyai Jambe Haeng Raja Puri Agung Satriya yang terakhir dan berakhirlah pula masa Dynasti Kejambean di wilayah Badung. Apa yang menjadi pesan terakhir dari Kiyai Jambe Aeng semuanya didengar oleh yang hadir pada saat itu.

Kembali ke keadaan di Puri Agung Satriya, setelah mendengar Wafatnya Kiyai Jambe Haeng seluruh Laskar Puri Agung Satriya disiagakan. Patih Agung Kalanganyar mempersiapkan laskar Puri Agung Satriya untuk menyerbu Jero Kaler Kawan. Namun secara tiba tiba laskar Jero Taensiat yang berada disebelah Utara Puri Satria menyerbu Jero kalanganyar sehingga pertempuran tidak bisa dihindari lagi. Benar bernar peperangan yang sangat dahsyat di sore hari itu sehingga sukar membedakan siapa kawan siapa lawan, sampai akhirnya patih Agung Kalanganyar tewas dalam peperangan tersebut.

Tabeng Dada atau Tameng Puri Satriya yang berada di Tampakgangsul bersiap untuk memberikan bantuan ke Puri Satriya namun ditengah jalan dicegat oleh laskar Taensiat sehingga peperangan tidak terhindarkan dan menimbulkan korban dikedua belah pihak. Namun bantuan dari Puri Satria tersebut dapat dipukul mundur sampai kearah barat Tukad Badung dan selanjutnya membuat perkemahan di Panti dan Blong.

Setelah itu Laskar Taensiat kemudian menyerbu ke dalam Puri Agung Satriya dan memporak porandakan bangunan yang ada didalamnya. Dalam keadaan yang kacau balau tersebut seorang bayi berhasil diselamatkan oleh pengasuhnya dan setelah dewasa dibuatkan Jero di Celagi Gendong.


Puri Satriya sudah porak poranda akibat peperangan tersebut, Bekas Jero Karanganyar dijadikan Jero Kaliungu Kaja, Bekas Tameng Jambe Merik dijadikan Jero Tampakgangsul. Semenjak peristiwa tersebut Kiyai Agung Belaluan dirubah namanya menjadi Kiyai Agung Taensiat , Tampakgangsul sebelumnya bernama Satriya semenjak perang tersebut dirubah menjadi Tampakgangsul, Tampak berarti Kelihatan, Gangsul artinya membantu.

Demikianlah akhir kekuasaan Puri Agung Satriya, dan sesuai pesan terakhir Kiyai Jambe Haeng sebelum wafat maka Kiyai Ngurah Made Dinobatkan sebagai Raja di Puri Denpasar pada tahun 1788 dengan gelar Kiyai Ngurah Made Pemecutan untuk meneruskan kekuasaan dari Puri Satriya.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SEJARAH PURI SATRIYA"

Posting Komentar